Globalisasi sudah banyak mewarnai gelap bangsa Indonesia dalam semua faktor kehidupan, baik politik, ekonomi, atau budaya. Tetapi, sejarawan Jerman era XIX Leopald Von Ranke menjelaskan jika “riwayat bukan malam dimana semua kucing berwarna abu-abu”. Berarti, walau riwayat manusia kekinian sudah tercabik-cabik oleh tingkah manusia sendiri, ini tidak bermakna jika hari esok riwayat manusia akan selama-lamanya gelap.

Riwayat hari esok akan jelas, asal manusia masih mempunyai keinginan.. karena, keinginan ialah faktor fundamental dari tiap manusia. Keinginan berikut yang sangat mungkin manusia berani berkonfrontasi dengan jaman dimana ia hidup.

Di masa transparansi ini, kita harus kerja keras untuk menyelematkan bangsa Indonesia dari impak jelek luar negeri. Penyikapan ini ialah dalam rencana mengakali globalisasi (manfaatkan kebaikan yang ada). Hingga kita bisa merealisasikan satu warga yang baik, yang seringkali kita ucap dengan warga sipil.

Mengacu Malik Fajar edmodo.id , warga sipil atau warga madani yang ingin di mewujudkan di Indonesia mempunyai beberapa ciri. Pertama. Warga yang religious, yakni warga yang beriman serta bertakwa pada tuhan yang maha Esa serta memiliki moral mulia. Ke-2, demokratis-pluralistik yang menghormati ketidaksamaan opini, keanekaragaman suku, agama, serta budaya. Ke-3, teratur serta sadar hukum untuk ketentuan paling tinggi (the supreme) yang mengikat kehidupan masyarakaat. Ke-4, mengaku serta junjung tinggi HAM, egaliterianisme, serta tidak diskrimatif. Ke-5, karieronal serta skillful. Mempunyai keunggulan intlektual, keterampilan, serta karieronalisme yang komparatif serta bersaing dalam kompetisi global. Ke enam, warga yang terbuka serta mempunyai adat belajar.

Untuk merealisasikan warga sipil itu peranan pendidikan kewarganegaraan penting. Oleh karenanya, Civic Education harus dirumuskan kembali lagi tujuan filosofinya. Menurut Prof. Dr. Suyanto, dengan tujuan yang baru, Civic Education bukan hanya mengajari persoalan-persoalaan cognitive domain (kepribadian knowledge) semata-mata, dengan meremehkan faktor kepribadian and social action. Kenapa demikian? Sebab kepribadian and social action itu yang malah harus mendapatkan perhatian dalam rasio yang semakin tinggi supaya Civic Education dapat membuat pelajar jadi good and responsible citizen untuk Ultimate goal yang semestinya diraih oleh mata pelajaran itu.

Dengan pendekatan semacam itu, kita akan dapat memberikan kepribadian and social skills pada beberapa siswa supaya nantinya mereka dapat pahami serta pecahkan persoalan-persoalan actual kewarganegaraan seperti toleransi, ketidaksamaan opini, empati, pluralism, kesadaran hokum, teratur sosial, hak asasi manusia, demokratisasi beberapa faktor kehidupan. Local wisdom, dan lain-lain. Local wisdom malah perlu mendapatkan perhatian untuk ditingkatkan dalam Civic Education yang mempunyai keberpijakan serta membumi pada wilayah ditempat. Dengan begitu, kita bisa menghindari diri dari kecemasan peluang hilangnya jati diri untuk masyarakat Negara karena ada globalisasi yang berjalan makin cepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *